• LMS-STAIN Jurai Siwo Metro

    Suasana sosiialisasi Learning Management System (LMS) STAIN Jurai Siwo Metro. LMS merupakan Software e-Learning berbasis web yang dimilki oleh STAIN Jurai Siwo Metro. Melalui Software ini memungkinkan seluruh dosen dan mahasiswa mengimplementasikan pembelajaran secara online, baik full online (full learning) maupun kombinasi antara pertemuan di kelas dengan online (blended learning).

  • Rektorat STAIN Jurai Siwo Metro

    Ini adalah gedung rektorat yang baru STAIN Jurai Siwo Metro. Semoga dapat menjadi tempat pelayanan yang nyaman bagi civitas akademika.

  • Prof. Dr. Syarifudin, M.Ag

    Foto bersama pada saat wisuda Pascasarjana (S2). Bagi saya beliau adalah sosok yang luar biasa, motivator dan inspirator bagi dosen dan mahasiswa dalam upaya kemajuan pendidikan, baik proses pembelajaran di kelas maupun secara kelembagaan (institusi). Melalui tangannyalah adanya perubahan STAIN Jurai Siwo Metro yang signifikan baik fasilitas maupun kualitas...

  • Ber-Foto di Universitas Sains Malaysia

    Dibidk saat Field Trip Mahasiswa Pascasarjana Angkatan I, ke tiga negara: Malaysia, Singapura dan Thailand pada Januari 2012.

  • Menara Kembar Petronas Kuala Lumpur

    Menara Kembar Petronas adalah bangunan keempat tertinggi di dunia. Ia terletak di Segi Tiga Emas, Bandaraya Kuala Lumpur dan merupakan mercu tanda utama di situ. Dibidk saat Field Trip Mahasiswa Pascasarjana Angkatan I, ke tiga negara: Malaysia, Singapura dan Thailand pada Januari 2012. (Photographer: M. Ali)

  • Salah Satu Panorama Singapura

    Dari panorama tersebut tergambar Negara yang bersih. Dibidk saat Field Trip Mahasiswa Pascasarjana Angkatan I, ke tiga negara: Malaysia, Singapura dan Thailand pada Januari 2012.

  • Mancing di Sungai Way Kandis Batanghari

    Mancing merupakan salah satu hobby saya. Bagi saya mancing tidak harus selalu dapat ikan banyak, tetapi dengan mancing dapat rilek dan istirahat serta menghilangkan kepenatan setelah lima hari kerja.

  • Variants Ikan Way Kandis Batanghari

    Ini adalah beberapa jenis ikan yang ada di sungai Way Kandis Batanghari yang berhasil dipancing. Lumayan bisa untuk makan sekeluarga satu kali.

Tuesday, January 17, 2017

Buku: Full e-Learning dan Blended Learning

Posted by Aa Umar on 6:45 PM with No comments
Full e-Learning dan Blended Learning
Teori dan Aplikasinya dalam Pembelajaran

Kata Pengantar
Prof. Dr. Karwono, M.Pd. (Rektor Universitas Muhammadiyah Metro)

Perkembangan dan kemajuan Tekonologi Informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini berlangsung sangat pesat, pengaruh TIK dalam dunia pendidikan semakin terasa sejalan dengan pergeseran pola pembelajaran dari tatap muka yang konvensional kearah pendidikan yang lebih terbuka. Para tokoh pendidikan meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat lebih luwes (fleksibel), terbuka dan dapat diakses oleh siapapun yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia maupun pengalaman pendidikan sebelumnya.

Pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukan oleh gedung sekolah. Teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Dengan adanya TIK dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainnya, semuannya itu sudah dapat dilakukan. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswa.

Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan mahasiswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video dan online meeting. Interaksi yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgruop dan buletin board. Dengan cara tersebut interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis, dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi guru dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat didownload oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh guru dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi didukung dengan metode pembayaran online.
 
Pembelajaran konvensional tidak lagi sepenuhnya menjadi andalan namun di tengah kemajuan teknologi saat ini diperlukan variasi metode yang lebih memberikan kesempatan untuk belajar dengan memanfaatkan aneka sumber, tidak hanya dari man power seperti halnya guru. Pembelajaran yang dibutuhkan adalah dengan memanfaatkan unsur teknologi informasi, dengan tidak meninggalkan pola bimbingan langsung dari pengajar dan pemanfaatan sumber belajar lebih luas. Konsep ini sering juga diistilahkan dengan pencampuran antara e-learning dengan konvensional sehingga disebut dengan blended learning. Saya menyambut baik penerbitan buku Full e-Learning dan Blended Learning: Teori dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran karya saudara Umar ini, sebagai salah satu kontribusi atas ilmu pengetahuan sekaligus untuk menjawab berbagai keterbatasan-keterbasan dalam pembelajaran.

Semoga ikhtiar penulis dalam menerbitkan buku ini, menjadi amal pahala dalam menyebarkan dan mewariskan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Amiin

Friday, December 23, 2016

Diskusi: PENGENALAN E-LEARNING BERBASIS WEB

Posted by Aa Umar on 4:50 PM with 8 comments
PENGENALAN E-LEARNING BERBASIS WEB

Oleh: Dekky Kurniawan,  Arbain Dewi Anjarwati, Yeni Agustina


PENDAHULUAN

Dunia Pendidikan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat seiring dengan kemajuan Teknologi Informasi. Metode pendidikan lama atau konvensional dirasakan menjadi kurang efektif karena terbatas kepada masalah ruang dan waktu. Teknologi Informasi menawarkan metode pendidikan baru yaitu metode e-Learning.

Sistem pembelajaran elektronik atau yang sering di sebut dengan sistem pembelajaran e-learning merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar. e-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi dan di dampingi dengan berkembangnya teknologi internet memberikan nuasa system pembelajaran jarak jauh yang lebih terbuka lagi. System pembelajaran yang berbasis web yang popular dengan sebutan electronic learning (e-learning), web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE), m-learning (mobile learning) dan lain-lain.

Keunggulan belajar jarak jauh yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah akses kesumber belajar semakin tebuka dan luas, cepat dan tidak terbatas pada ruang waktu. Kegiatan pembelajaran dapat dengan mudah  oleh dosen dan mahasiswa, kapan saja dan dimana saja dengan rasa nyaman dan menyenangkan. Batasan ruang, waktu dan jarak tidak lagi menjadi masalah rumit untuk dipecahkan. Melalui teknologi e-learning dosen dan mahasiswa dapat melakukan konferensi, diskusi, konsultasi secara elektronik (electronic conference) tanpa hasru bertemu disuatu tempat.

Pemanfaatan e-learning diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian mahasiswa, serta komunikasi antara dosen dengan mahasiswa maupun antar mahasiswa.

PEMBAHASAN

A.    Konsep dasar e-learning

E-Learning merupakan alternative model pembelajaran yang  memberikan banyak kemanfaatan bagi guru dan pebelajar.

Guru dan pebelajar bisa melakukan interaksi pembelajaran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Selama ini, sebagian orang hanya mengenal nama e-Learning tapi kurang memahami apa dan kenapa itu sebenarnya dibuat. Oleh sebab itu mari kita bahas lebih dalam mengenai apa itu e-learning.

1.    Pengertian e-learning

Definisi Istilah e‐Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e‐Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang dikutip dari :

Darin E. Hartley yang menyatakan: e‐Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

Chandrawati menyatakan bahwa e-learning merupakan Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi.   

Michael menyatakan e-learning merupakan Pembelajaran yang disusun dengan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran.

Ardiansyah menjelaskan bahwa e-learning merupakan Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa.

Dari beberapa pendapat kami mengambil kesimpulan bahwa sistem pembelajaran e-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi yang memungkinkan siswa dan guru tidak bertemu secara langsung dalam proses belajar mengajar.

2.    Hakikat e-learning

E-Lerning terdiri dari dua bagian yaitu : “ E “ yang merupakan singkatan dari “ elektronic “ dan “ Learning “ yang berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronik, khusunya perangkat komputer. Karena itu e-learning sering disebut pula dengan online course . Dengan kata lain e-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksanannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, vidio tape, transmisi satelit atau komputer. Online curse adalah bagaimana cara memanfaatkan ICT untuk pendidikan jarak jauh agar mereka yang menginginkan pendidikan bisa lebih banyak yang di jangkau.

Menurut Andriani (2003:305) e-learning merupakan bentuk pembelajaran jarak jauh (PJJ). Yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi, misalnya internet, video / audiobrodcasting, video / audioconferencing, CD-Rom (Synchronus dan asynchronus).

Menurut Allan J. Henderson, e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003).

Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk bAelajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas.

William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet).

Dengan demikian maka e-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksanaan nya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer.

Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa e-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksanaan nya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer.

3.    Karakteristik e-learning

Suatu sistem pembelajaran pastilah memiliki sebuah karakteristik untuk membedakan sistem tersebut dengan sistem yang lain, begitu pula dengan sistem pembelajaran e-learning yang di canangkan menjadi suatu sistem pembelajaran di masa depan.

Menurut Rosenberg karakteristik E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi.

Ada pun Karakteristik e-learning yang kami rangkum dari beberapa sumber lain yaitu:

a.    Memanfaatkan jasa teknologi elektronik (informasi dan komunikasi); di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. Teknologi yang digunakan dapat berupa internet sehingga penyampaian pesan dan komunikasi antara pebelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pembelajar, dan pembelajar dengan pembelajar dapat dilakukan secara mudah dan cepat.
b.    Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks).
c.    Menggunakan bahan pelajaran yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Dengan menggunakan e-learning, pebelajar dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap pembelajar karena pembelajaran tidak dilakukan secara langsung.
d.    Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.
e.    Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.

Dari beberapa karakteristik ini, diperoleh pengetahuan bahwa pengembangan ELearning tidak semata-mata hanya menyajikan materi pelajaran secara online saja, namun harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah siswa belajar di hadapan guru melalui layar komputer yang dihubungkan melalui jaringan internet. Untuk dapat menghasilkan E-Learning yang menarik dan diminati.

B.    Manfaat e-learning berbasis web


Pemanfaatan e-learning tidak terlepas dari jasa internet . Karena teknik pembeljaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi terhadap tugas guru dalam peroses pembelajaran.

Dari berbagai pengalaman dan juga berbagai informasi yang tersedia di literatur memberikan petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khusunya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

1.    Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secra mudah melalui fasalitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa di batasi oleh jarak, tempat dan waktu.
2.    Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehungga keduanya bisa salinh menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.
3.    Siswa dapat belajar atau mereview bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
4.    Bila sisiwa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet.
5.    Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
6.    Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.
7.    Relatif lebih efisien misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri dan, sebagainya.

Dari sumber di atas kami menyimpulkan bahwa Manfaat E-learning adalah:

1.    Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
2.    Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
3.    Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.   

C.    Mengelola pengetahuan melalui e-learning (Knowledge management)

Berbicara mengenai pengetahuan pasti tak lepas dari kata ilmu. Bila ilmu diartikan sebagai pengetahuan yang disusun secara logis dan sistematis, maka pengetahuan bisa di artikan sebagai sesuatu yang diketahui melalui pancaindra dan pengolahan yang di lakukan oleh pikiran. Semua orang membutuhkan pengetahuan untuk menjalani kehidupan mereka secara baik. Francis Bacon pada abad ke – 15 mengungkapkan bahwa “knowledge is a power”. Bill Gates membuktikan kekuatan ilmu pengetahuan tersebut pada abad ke  –  20 melalui kemunculan Microsoft. Lompatan besar dalam knowledge ini mendongkrak kebangkitan teknologi informasi seperti Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Peter F. Drucker membenarkan pentingnya knowledge yang membawa perubahan besar pada kemajuan dunia modern. Untuk memperoleh sebuah pengetahuan, seseorang harus melewati proses belajar, mencari, mengamati, dan menganalisis suatu ilmu. Memang tidak mudah mendapatkan pengetahuan yang kita inginkan dan semua itu perlu adanya semangat, ke inginan, tekat, biaya, waktu dan tempat yang baik untuk memperoleh pengetahuan yang baik pula. Kita harus pandai dalam mengatur atau membuat manajemen proses dalam mendapatkan pengetahuan atau sekarang di sebut dengan manajemen pengetahuan.  Istilah knowledge management (KM) atau manajemen pengetahuan, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1986, dalam konferensi manajemen Eropa.

Sampai saat ini belum ada definisi tunggal yang disepakati secara internasional mengenai KM. Tiap ahli mempunyai pengertian dan penekanan yang berbeda dalam mendefinisikan KM.

Beberapa definisi mengenai KM yang ada dalam literatur diantaranya:

Nonaka & Takeuchi (1994): KM adalah alat manajemen yang membenarkan keyakinan bahwa pengetahuan menjadi aset untuk meningkatkan kapasitas organisasi agar mampu bekerja lebih efektif.

Anderson dan APQC (1996): KM merupakan sebuah proses pembelajaran orang dalam menggunakan informasi.

Karl Erik Sveiby (1997) menjelaskan bahwa KM adalah sebuah seni untuk menciptakan nilai organisasi dari aset intangible yang dimilikinya.

Delphi (1998): KM merupakan praktik dan teknologi untuk memfasilitasi proses penciptaan dan pembagian pengetahuan.

Davenport dan Prusak (1998) mendefinisikan KM sebagai sebuah upaya untuk mencatat pengetahuan eksplisit faktual dan pengetahuan taksit yang ada di dalam perusahaan untuk mencapai objektif bisnis.

Newman dan COnrad (1999), menyatakan KM adalah suatu disiplin yang mencari peningkatan kinerja individual dan organisasi, dengan mengelola dan mengungkit nilai saat ini dan nilai yang akan datang dari aset pengetahuan.

Harvard College (1999) menjelaskan KM sebagai suatu proses terhormat dan terarah dalam mencerna informasi yang telah dimiliki suatu perusahaan, dan mencari apa yang dibutuhkan oleh masing-masing individu di dalam perusahaan tersebut, untuk kemudian memfasilitasinya agar mudah diakses dan selalu tersedia bilamana dibutuhkan.

Dari seluruh pendapat dapat kami simpulkan bahwa “knowledge management merupakan proses untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, menyarikan dan menyajikan pengetahuan dengan cara sistematik, sehingga para pelajar mampu memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik, untuk kemudian ada proses institusionalisasi agar pengetahuan yang diciptakan menjadi pengetahuan yang bermanfaat”.

Lalu bagaimana cara mengelolah pengetahuan melalui e-learning. dengan e-learning kita dapat mengatur atau mengelolah bagaimana dan seperti apa cara memperoleh pengetahuan, karena di dalam proses e-learning pelajar dapat  memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan sehingga memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajarnya.

D.    Strategi pembelajaran melalui e-learning

Strategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa.

Materi dari pendidikan dan pelatihan dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan dengan teknologi e-learning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli (experts). Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanik menunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3 dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah.

Ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :

1.    Learning by doing. Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calon penerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti ia berlatih dengan pesawat yang sesungguhnya
2.    Incidental learning. Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarik untuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang mahasiswa dapat mempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.
3.    Learning by reflection. Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan suatu ide/gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari mahasiswa untuk kemudian diberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari mahasiswa.
4.    Case-based learning. Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi mengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada nara sumber ahli dan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari. Mahasiswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari nara sumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.
5.    Learning by exploring. Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. Mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.

E.    Pengenalan Learning Management System (LMS)

Dalam proses penyelenggaraan e‐Learning, maka dibutuhkan sebuah Learning Management System (LMS), yang berfungsi untuk mengatur tata laksana penyelenggaraan pembelajaran di dalam model e‐Learning. Sering juga LMS dikenal sebagai CMS (Course Management System).

CMS are web applications, meaning that they run on a server and are accessed by using a web browser.

Jadi pada dasarnya CMS dibangun berbasi web, sebuah web browser. yang akan berjalan pada sebuah web server dan dapat diakses oleh pesertanya melalui web browser (web client). Server biasanya ditempatkan di universitas atau lembaga lainnya, yang dapat diakses darimanapun oleh pesertanya, dengan memanfaatkan koneksi internet.

Pada umumnya, secara dasar CMS memberikan sebuah tool bagi instruktur, educator atau pendidik untuk membuat website pendidikan dan mengatur akses kontrol, sehingga hanya peserta yang terdaftar yang dapat mengakses dan melihatnya. Selain menyediakan pengontrolan, CMS juga menyediakan barbagai tools yang menjadikan pembelajaran lebih efektif dan efisien, seperti menyediakan layanan untuk mempermudah upload dan share material pengejaran, diskusi onlie, chatting, pnyelenggaraan kuis, survey, laporan (report) dan sebagainya.

Jason Cole mengungkapkan bahwa secara umum, fungsi‐fungsi yang harus terdapat pada sebuah LMS/ CMS antara lain:

1.    Uploading and sharing materials

Umumnya LMS/CMS menyediakan layanan untuk mempemudah proses publikasi konten. Dengan menggunakan editor HTML, kemudian mengirim dokumen melalui FTP server, sehingga dengan demikian mempermudah instruktur untuk menempatkan materi ajarnya sesuai dengan silabus yang mereka buat. Kebanyak instruktur mengupload silabus perkuliahan, catatan materi, penilaian dan artikel‐artikel siswa kapanpun dan dimanapun mereka berada.

2.    Forums and chats

Forum online dan chatting menyediakan layanan komunikasi dua arah antara isntruktur dengan pesertanya, baika dilakukan secara sinkron (chat) maupun asinkron (froum, email). Sehingga dengan fasilitas ini, memungkinkan bagi siswa untuk menulis tanggapannya, dan mendiskusikannya dengan teman‐temannya yang lain.

3.    Quizzes and surveys

Kuis dan survey secara online dapat digunakan untuk memberikan grade secara instan bagi peserta kursus. Hal ini merupakan tool yang sangat bai digunakan untuk mendapatkan respon (feedback) langsung dari siswa yang sesuai dengan kemapuan dan daya serap yang mereka miliki. Proses ini dapat juga dilakukan dengan membangun sebuah bak soal, yang kemudian semua soal tersebut dapat di generate secara acak untuk muncul dalam kuis.

4.    Gathering and reviewing assignments

Proses pemberian nilai dan skoring kepada siswa dapat juga dilakukan secara online dengan bantuan LMS/ CMS ini.

5.    Recording grades

Fungsi lain dari LMS/ CMS adalah melakukan perekaman data grade siswa secara otomatis, sesuai konfigurasi dan pengaturan yang dilakukan oleh instruktur dari awal perkuliahan dilaksanakan.

Ada beberapa alasan kuat, sehingga menjadikan Moodle sebagai salah satu LMS/ CMS yang populer digunakan oleh banyak institusi pendidikan, antara lain :

1)      Free dan Open Source

Moodle bernaung dibawah bendera open source, sehingga dengan demikian semua orang dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan dari institusi yang menggunakannya. Moodle disistribusikan secara gratis, sehingga tidak membutuhkan sedikitpun dana untuk membeli aplikasinya, kecuali dana yang dibutuhkan untuk membayar bandwidth yang terpakai untuk mendownload 17 MB master Moodle.

2)      Ukuran kecil, kemampuan maksimal

Dengan ukuran yang kecil (sekitar 17 MB untuk versi Moodle 1.9), namun mampu mengola aktifitas kegiatan akademik dan pembelajaran hingga seukuran sebuah universitas dengan jumlah
mahasiswa sekitar 50.000 orang.

3)      Dilandasi oleh educational Philosophy

Moodle tidak dibangun oleh seorang computer scientist murni, tetapi berdasarkan kepada pengalaman dan latar belakang pendidikan dalam bidang ilmu pendidikan. Sehingga Moodle mampu mengakomodir hampir semua kebutuhan pendidikan konvensional yang ditransfer dalam wujud online learning.

4)      Mempunyai Komunitas yang besar dan saling berbagi.

Komunitas pengguna Moodle tergabung dalam suatu organisasi yang bernaung dibawah bendera www.moodle.org. Salah satu aplikasi e-learning berbasis web yaitu Moodle (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment)

Jadi dapat kami simpulkan bahwa aplikasi LMS (Learning Management System)merupakan sistem e-learning berbasiskan web yang paling populer dan banyak dipakai untuk membangun aplikasi e-learning dan Moodle merupakan software open-source disediakan secara bebas, dapat diinstall dan dikembangkan dengan gratis.

Wednesday, December 14, 2016

Diskusi: Pengembangan Media Pembelajaran

Posted by Aa Umar on 12:04 AM with 12 comments
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

Oleh: Kholilu Rohman, Tia Anggraini, Zuharoh Ivosari


Sumber: Link

Pendahuluan

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Karena keduanya sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi materi dan siswa yang diajar, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan, ternasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Sehingga, media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran.

Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain itu, media pembelajaran juga dapan membantu guru dalam proses pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu dalam proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu, sehingga yang menjadi tujuan dari pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.

Oleh karena itu, media pembelajaran sangan penting dalam mendukung proses pembelajaran. Sehingga, perlu adanya pengembangan-pengembangan media pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran harus sesuai dengan prinsip yang ada. Dan sesuai dengan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sehingga perlu kiranya kami menjelaskan tentang langkah-langkah dalam pengembangan media pembelajaran. Sehingga, kita dapat mengetahui bagaimana cara mengembangkan media pembelajaran yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi efektif.

Pembahasan

A. Pengertian Media Pembelajaran

Dalam   proses   komunikasi,   media   merupakan   apa   saja   yang mengantarkan atau membawa informasi ke penerima informasi. Di dalam proses belajar mengajar yang pada hakikatnya juga merupakan proses komunikasi, informasi atau pesan yang dikomunikasikan adalah isi atau bahan ajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum, sumber informasi adalah guru, penulis buku atau tadul, perancang dan pembuat media pembelajaran lainnya; sedangkan penerimaan informasi adalah siswa atau warga belajar. Pengertian media pembelajaran bervariasi. Secara etimologis kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar . Dalam konteks belajar dan pembelajaran, media dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau materi pembelajaran dari guru atau pendidik sebagai komunikator kepada siswa atau peserta didik sebagai komunikan.  Media pembelajaran sebagai teknologi pembawa informasi yang dapat dimanfaatkan untuk proses belajar men
gajar; sebagai sarana fisik untuk menyampaikan bahan ajar. 

Media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Menurut Djamarah dan Aswan Zain adalah media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur  pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.  

Selanjutnya Purnamawati dan Eldarni menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. 

Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian media pembelajaran ialah komponen, alat bantu, saluran, atau segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berupa materi pembelajaran dari pendidik (guru) sebagai komunikator kepada peserta didik (siswa) sebagai komunikan dalam proses belajar dan pembelajaran serta dapat merangsang pikiran, perasaan,minat, dan perhatian peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

B. Macam-Macam Media Pembelajaran

Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset audio merupakan media auditif  yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronunciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media kaset audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.

Guru sebagai informator harus memiliki sejumlah bidang keilmuan yang sesuai dengan kewenangannya, karena ini merupakan modal dasar guru agar pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik. Sikap profesionalisme guru dalam tahap persiapan ini dibutuhkan baik dalam merancang program pembelajaran maupun dalam bidang penguasaan ilmu yang digelutinya. Dalam tahap persiapan seorang guru harus memperhatikan pula bagaimana penyusunan perancangan rencana kegiatan belajar-mengajar, baik itu yang berkaitan dengan tujuan, metode, media, sumber, evaluasi, dan kegiatan siswa itu sendiri. 

Jadi dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru kesiswa atau sebaliknya. Penggunaan media pembelajaran akan memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dan atau dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Kita ambil contoh;

1. Seorang guru ingin menjelaskan tentang daur hidup kupu-kupu mulai dari larva/ulat. Agar lebih konkret, guru dapat membuat atau memperlihatkan gambar atau foto atau CD tentang proses terbentuknya kupu-kupu, tanpa guru menjelaskna panjang lebar, siswa akan lebih mengerti daur hidup seekor kupu-kupu dari media yang diperlihatkan oleh guru.
2. Jika kita ingin agar siswa dapat menunjukkan letak Indonesia di Benua Asia maka sebaiknya kita menggunakan peta atau bola dunia, dengan demikian siswa kita akan mengerti dan dapat menunjukkan letak Indonesia di peta tersebut.

Memperhatikan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran, beberapa ahli mencoba mengidentifikasi dan membuat klasifikasi media. Sebagai contoh Schramm menglasifikasikan media menjadi dua jenis, yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televise, computer). Lain lagi dengan Bretz yang mengklasifikasikan  media berdasarkan tiga unsur, yaitu suara, bentuk, gerak. Bretz diantaranya menggolongkan media ke dalam media cetak, media audio, media visual gerak, media visual diam, media audiovisual gerak, media audiovisual diam. Selain itu Tosti dan Ball juga menyusun pengelompokkan media menjadi enam kelompok media penyaji, yaitu (1) grafis, bahan cetak, dan gambar diam (2) media proyeksi diam (3) media audio (4) media gambar hidup/film (5) media televise (6) multimedia.

Dari berbagai pengelompokan media pembelajaran tersebut, secara sederhana media pembelajaran dapat dipilah menjadi tiga bagian saja, yaitu sebagai berikut:

1. Media visual 

Media  visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru untuk membantu menyampaikan isi atau meri pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyesikan (non-projected visual) dan media yang  dapat diproyesikan (project visual). Media yang dapat diproyesikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures). Contoh dari media visual adalah tabel, poster, foto, dan slide.

2. Media Audio

Pengertian media audio untuk pembelajaran, dimaksudkan sebagai bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga tedadi proses belajar mengajar. Manfaat media audio terutama dirasakan benar dalam melatih berbahasa asing, music literary, belajar jarak jauh, dan paket belajar atau modul untuk tujuan belajar mandiri.

Masih ada lagi dua media audio yang disalurkan melalui telekomunikasi yang sedikit banyak digunakan dalam pendidikan, yaitu radio dan telepon. Radio mempunyai sejarah yang panjang dalam siaran pendidikan, sedangkan telepon baru saja dipergunakan melalui kuliah jarak jauh (telelecture) atau teknik jaringan penerimaan yang diperluas (amplified receiver technique).

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari jenis media ini, antara lain dalam hal melatih daya ingat dan mengungkapkan kembali gagasan cerita yang telah disimak, melatih diri dalam memisahkan informasi yang relevan dari yang tak relevan serta dapat pula melatih daya analisis.

3. Media Audiovisual

Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandang-dengar. Sudah barang tentu apabila kita menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimallah penyajian bahan ajar kepada para siswa. Selin itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini,  guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (narasumber) karena penyajian materi dapat digantikan oleh media. Oleh sebab itu, peran guru beralih menjadi fasilitator belajar. Contoh dari media audiovisual diantaranya program video/televise pendidikan, video/televise instruksional, dan program slide suara (sound slide), dan pembelajaran dengan computer. 

C. Prinsip-prinsip Media Pembelajaran

Siswa memiliki daya tangkap yang berbeda dalam menerima materi yang  akan diberikan seorang pendidik. Seorang pendidik harus mengerti tentang penggunaan media pembelajaran. Dan tidak asal membuat media pembelajaran, harus mengerti prinsip-prinsip dalam memilih media pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Punaji Setyosari dalam naskah yang digunakan PLPG, dia menyebutkan bahwa dalam memilih media pembelajaran seorang pendidik harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu ;

1. Tak ada satupun media, prosedur dan pengalaman belajar yang paling baik untuk belajar;
2. Percayalah bahwa penggunaan media itu sesuai dengan tujuan khusus pembelajaran;
3. Anda harus mengetahui secara menyeluruh kesesuaian antara isi dan tujuan khusus program;
4. Media harus mempertimbangkan kesesuaian antara penggunaannya dengan cara pembelajaran yang dipilih;
5. Pemilihan media itu sendiri jangan tergantung pada pemilihan dan penggunaan media tertentu saja;
6. Sadarlah bahwa media yang paling baik pun apabila tidak dimanfaatkan secara baik akan berdampak kurang baik atau media tersebut digunakan dalam lingkungan yang kurang baik;
7. Kita menyadari bahwa pengalaman, kesukaan, minat dan kemampauan individu serta gaya belajar mungkin berpengaruh terhadap hasil penggunaan media;
8. Kita menyadari bahwa sumber-sumber dan pengalaman belajar bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan baik atau buruk tetapi sumber-sumber dan pengalaman belajar ini berkaitan dengan hal yang konkrit atau abstrak. 

Dalam memilih media pembelajaran juga harus melihat prinsip-prinsip pembelajaran dahulu. Setelah itu seorang pendidik akan mengetahui sejauh mana dia akan membuat media pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam bukunya Arifin “Prinsip-prinsip Pembelajaran Fajar” melingsir kutipan dalam website tentang beberapa prinsip-prinsip umum dalam pembelajaran sebagai berikut: 
1. Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen;
2. Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan;
3. Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami liner sejalan proses kehidupan. 

Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak hanya sekedar memilih saja. Karena harus memperhatikan banyak hal, agar dapat menunjang efektif, efisien, dan daya tarik dalam belajar siswa. Mudhoffir dalam bukunya “Teknologi Instruksional”, menyebutkan ada beberapa prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut: a) kesesuaian dengan tujuan pengajaran, b) tingkat kemampuan siswa,  c) ketersediaan media, d) biaya, e) mutu teknik media.  Prinsip pemilihan media pembelajaran menurut Harjanto yaitu: 1) tujuan; 2) keterpaduan; 3) keadaan peserta didik; 4) ketersediaan; 5) mutu teknis; 6) biaya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip media pemilihan media pembelajaran adalah : 
1. Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan, serta karakteristik siswa.
2. Mengenali ciri-ciri tiap media pembelajaran 
3. Pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada peningkatan efektivitas belajar siswa. 
4. Pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat belajar siswa. 

D. Langkah-Langkah Mengembangkan Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses belajara mengajar yang dapat membangkitkan minat dan keinginan, motivasi siswa, dan bahkan dapat membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan media pembelajaran sangatlah penting karena penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi sangatlah penting untuk membentuk keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran, sehingga tujuan pembelajaran bisa  tercapai secara maksimal.

Kegiatan pengembangan media pembelajaran secara garis besar harus melalui tiga langkah besar yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penialian.  Sementara dalam rangka melakukan desain atau rancangan pengembangan program media, Arief Sadiman, dkk, memberikan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan program media menjadi 6 (enam) langkah sebagai berikut: 

1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa

Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.

Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topik-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak atau diam). 

Contoh melakukan identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa: Seorang anak berusia 7 tahun diharapkan sudah berperilaku hidup sehat dengan rajin membaca, rajin menabung, tidak boros, namun dalam kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Dengan demikian terjadi kebutuhan bagaimana meningkatkan sikap siswa untuk hidup hemat.

Adanya kebutuhan tersebut inilah yang menjadi dasar pijakan dalam membuat media pembelajaran, karena dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. dan media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan  yang dimiliki siswa.

2. Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas.

Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat, yaitu: tujuan pembelajaran harus berorientasi kepada siswa; artinya tujuan itu benar-benar harus menyatakan adanya perilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh setelah proses belajar dilakukan.

Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat kita akronimkan dalam ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree). Penjelasan dari masing-masing komponen tersebut sebagai berikut:

A = Audience adalah menyebutkan sasaran/audien yang dijadikan sasaran pembelajaran
B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung
C = Condition adalah menyebutkan  kondisi yang bagaimana atau dimana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya
D = Degree  adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai.

Contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti praktek berwudhu,  siswa MI kelas V  dapat mempraktekkannya (sholat) dengan benar.

3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan

Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang abstrak. Contoh rumusan butir-butir materi dari rumusan tujuan pembelajaran di atas yaitu: Praktek berwudhu. 

4. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan

Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau checklist prilaku.

Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.

Sebagai salah satu contoh tentang alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah sebagai berikut:

Rumusan Tujuan Rumusan Materi Alat Pengukur (Tes)

Siswa kelas V MI dapat mempraktekkan cara berwudhu dengan benar Tata cara berwudu •         Sebutkan bacaan niat berwudhu dan do’a setelah berwudhu

Tunjukkan gerakan-gerakan atau cara dalam berwudhu

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa penyusunan alat ukur keberhasilannya harus berdasar dari rumusan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.

5. Menulis Naskah Media

Naskah media adalah bentuk penyajian materi pembelajaran melalui media rancangan yang merupakan  penjabaran dari pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik seperti yang telah dijelaskan di atas. Supaya materi pembelajaran itu dapat disampaikan melalui media, maka materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang kita sebut naskah program media.

Naskah program media maksudnya adalah sebagai penuntun kita dalam memproduksi media. Artinya menjadi penuntut kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Karena naskah ini berisi urutan gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera atau bunyi dan suara yang harus direkam.

Tahapan dalam pembuatan atau penulisan naskah adalah berawal dari adanya ide dan gagasan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. selanjutnya pengumpulan data dan informasi, penulisan sinopsis dan treatment, penulisan naskah, pengkajian naskah atau revisi naskah, revisi naskah sampai naskah siap diproduksi.

6. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi

Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Suatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.

Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari tes.

Jika semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. Akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi media. 

Penutup

A. Kesimpulan

Pengertian media pembelajaran ialah komponen, alat bantu, saluran, atau segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berupa materi pembelajaran dari pendidik (guru) sebagai komunikator kepada peserta didik (siswa) sebagai komunikandalam proses belajar dan pembelajaran serta dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

Macam-macam media diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televise, computer). Dan  media berdasarkan tiga unsur, yaitu suara, bentuk, gerak. Bretz diantaranya menggolongkan media kedalam media cetak, media audio, media visual gerak, media visual diam, media audiovisual gerak, media audiovisual diam. Selain itu Tosti dan Ball juga menyusun pengelompokkan media menjadi enam kelompok media penyaji, yaitu (1) grafis, bahan cetak, dan gambar diam (2) media proyeksi diam (3) media audio (4) media gambar hidup/film (5) media televise (6) multimedia.

Prinsip pemilihan media pembelajaran yaitu: 1) tujuan; 2) keterpaduan; 3) keadaan peserta didik; 4) ketersediaan; 5) mutu teknis; 6) biaya.

Adapun dalam langkah-langkah pengembangan media pembelajaran dapat melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
b. Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas
c. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan
d. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
e. Menulis Naskah Media
f. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi


DAFTAR PUSTAKA

A.S Sudiman, dkk, 1986. Media Pendidikan; Pengertian Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta; Pustekkom dan Rajawali. 

Arifin, Zainal. 2009. Prinsip-prinsip Pembelajaran, dalam Kurikulum dan Pembelajaran.  Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universiatas Pendidikan Indonesia: Bandung.

Asep Herry Hernawan, dkk, 2009. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2006. Strategi belajar Mengajar . Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Gintings Abdorrakhman, 2008, Essensi Praktis Belajar dan Pembelajaran  Bandung: Humaniora.

Mudhofir. 1999. Teknologi Instruksional. Remaja Rosda Karya: Bandung.

Purnamawati dan Eldarni, 2001 , Media Pembelajaran Jakarta

Setyosari, Punaji. 2008. Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran. Universitas Negeri Malang; Panitia Sertifikasi Guru Rayon 15: Malang.

Harjanto. Perencanaan Pembelajaran. (online) tersedia di http://www.m-edukasi.web.id/2012/05/Pemilihan-Media-Pembelajaran.html di akses hari Selasa, 4 Oktober 2016.

http://meretasmasadepan.blogspot.com/2011/03/langkah-langkah-pengembangan-media.html di akses hari Selasa, 4 Oktober 2016.

Monday, November 28, 2016

Diskusi Online: Peralatan Media Pembelajaran

Posted by Aa Umar on 4:31 AM with 15 comments
Peralatan Media Pembelajaran

Oleh: Gunawan, Selly Wulandari, dan Sena Marhendra P

Sumber : Link
PENDAHULUAN

Kegiatan pendidikan adalah sebuah system. Sebagai sebuah system pendidikan memuat beberapa komponen – komponen tertentu yang saling mempengaruhi dan menentukan, maka apabila satu komponen terlepas atau tidak ada maka pendidikan tidak akan berjalan dengan sebagaimana mestinya. Komponen dalam pendidikan sendiri diantaranya yaitu : tujuan, peserta didik, alat dan media, serta lingkungan. Namun disini penulis hanya akan membahas mengenai peralatan media pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan sering kali istilah alat bantu atau media pembelajaran digunakan sebagai bahan ajar dalam rangka memudahkan siswa-siswi dalam menangkap ateri pengajaran .Hal ini tentu membutuhkan sebuah keuletan seorang pengajar /guru dalam membimbing murid di dalam kelas ,supaya siswa lebih mudah untuk cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dalam proses belajar mengajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas,setiap siswa tentu memiliki intelegensiyang berbeda-beda baik laki-laki maupun permepuan itulahsebabnya mengapa media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran

Di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini,media pembelajaran terus semakin canggih,apalagi dalam bidang elektronik. Sebagai pengajar tentu harus tahu akan hal ini dan jangan sampai seorang pengajar dikatakam ketinggalan zaman .dalam hal ini kami mengacu kepada peralatan media pembelajaran yakni sebagai media pembelajaran yang bisa digunakan sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar,sehingga siswa –siswi bisa menyaksikan bentuk tampilan dari sebuah gambar/slide,seperti overhead projector (ohp) ,microform reader, proyektor film rangkai film strip projector, proyektor film bingkai.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Peralatan Media Pembelajaran

Peralatan (device) ialah  sesuatu yang bisa disebut media/ hardware yang menyalurkan pesan untuk disajikan yang ada di dalam software,berupa : OHP, proyektor, slides, film, TV, kamera, papan tulis dan diimanfaatkan sebagai alat bantu pendidikan.

Gegne menyebutkan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Sedangkan Brigs mendefinisikan media sebagai salah satu bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dari dua definisi tersebut mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan. 

Media pendidikan merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau pserta didik. Alat bantu itudisebut media pendidikan, sedangkan komunikasi adalah sistem penyampaiannya. Dengan demikian, ada perbedaan antara teknologi pendidikan dengan media pendidikan. Media pendidikan itu banyak dan berfariasi, sedangkan teknologi pendidikan itu menekannkan kepada pendekatan teknologis dalam pengelolaan pendidikan. Teknologi pendidikan mengintegrasikan aspek manusia proses prosedur dan peralatannya. 

B. Jenis-Jenis Peralatan Media Pembelajaran
1.      Pengertian Media OHP
OHP ( Overhead Projector ) adalah media proyeksi  visual yang relatif sederhana, sebab hanya terdiri dari penggunanan sistem optik (lensa), elektrik (kipas angin) dan lampu proyekor yang berfungsi untu memproyeksikan atau menyajikan transparansi.[1]

Transparansi yang diproyeksikan adalah visual baik berupa huruf, lambang, gambar, grafik atau gabungannya pada  lembaran gambar tembus pandang atau plastik yang dipersiapkan untuk diproyeksikan ke sebuah layar atau dinding melalui sebuah proyektor. 

OHP ( Overhead Projector ) juga terdiri atas sebuah kotak dengan bagian atasnya sebagai landasan yang luas untuk meletakkan materi pengajaran. Cahaya yang amat terang dari lampu proyektor amat kuat menyorot dari dalam kotak, kemudian dibiaskan oleh sebuah lensa khusus, yaitu lensa fresnal, kemudian melewati sebuah transparan ukuran 20 x 25 cm yang ditempatkan diatas landasan, menghasilkan berkas cahaya berbelok 90o melewati bahu si pendidik. 

OHP ( Overhead Projector ) telah ditemukan sejak tahun 1930-an yaitu sejak adanya penemuan lensa fresnal yang digunakan dalam OHP. 

2.      Karakteristik Media OHP
Overhead Transparansi termasuk media proyeksi yang memerlukan bahan transparan untuk diproyeksikan, dan memerlukan perangkat untuk memproyeksikan media pengajaran yang disebut OHP ( Overhead Projector ).

Tiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan. Demikian pula dengan media transparansi ini. Satu faktir yang perlu diperhatikan dalam memilih media adalah dengan mengkaji kelebihan dan keterbatasan suatu media. Karakteristik media perlu diketahui oleh seorang pendidik, dalam upaya  untuk menyesuaikan dengan sifat atau karakter bahan pelajaran yang akan disajikan. Sehingga proses belajarmenjadi efektif dan efisien. 

3.      Cara Pemanfaatan OHP
Dalam pengoperasian media OHP (Overhead Projector) perlu diperhatikan hal – hal sebagai berikut
a. Periksa sumber tegangan listrik dan sesuaikan dengan tegangan pada peralatan yang akan digunakan.
b. Hubungkan kabel OHP dengan sumber listrik.
c. Tekan tombol On/Off ke posisi On.
d. Letakkan transparansi ke posisi yang benar (diatas stage)
e. Atur posisi lensa head asserably dari posisi OHP itu sendiri untuk menghindarkan energi key stoneeffect
f. Aturlah tombol pengatur fokus, sehingga didapatkan hasil gambar proyeksi yang jelas dan tajam (fokus). 

Ada tiga netode dasar untuk membuat transparansi, diantaranya :
a.   Menulis atau menggambar pada transparansi dengan tangan.
b.   Mengopy tulisan dan gambar dari kertas ke transparansi dengan menggunakan mesin fotocopy.
c.    Membuat transparansi menggunakan komputer.

Efektifitas transparansi sangat tergantung pada seberapa jauh transparansi tersebut direncanakan dan diproses secara hati – hati.

Overhead Projector dan transparansi yang telah dipersiapkan dengan baik tidak selalu menjamin belajar yag efektif. Hal ini dikarenakan alat -alat tersebut hanya merupakan alat yang dapat digunakan secara efektif oleh pimpinan diskusi atau instruktur dalam berkomunikasi dengan peserta didik.

Beberapa saran agar Overhead Projector ( OHP ) dan transparansi dapat digunakan secara efektif, diantaranya :
a.    Pastikan atau periksa bahwa proyektor, lampu dan layar bersih serta berfungsi dengan baik sebelum pertemuan dimulai.
b.    Tempatkan layar dengan tepat, sehingga semua peserta didik dapat melihat. Dan biasanya ditempatkan di sudut ruangan dan di usahakan bagian atas layar sedikit condong ke muka.
c.    Cek dengan cermat ukuran huruf dan tentukan jarak antara proyektor dengan layar, sehingga gambar dilayar dapat dilihat oleh para peserta didik  yang berada di belakang sama baiknya seperti mereka yang berada di depan.
d.     Susun urutan transparansi sesuai dengan urutan penayangan.
e.    Dengan menggunakan karton atau kertas menutupi sebagian transparansi, pendidik dapat mengatur kecepatan penyajiannya.
f.     Materi yang kompleks dapat disederhanakan dengan menggunakan penutup yang membuat pembicara dapat menjelaskan materi dari tahap demi tahap.
g.    petunjuk dari baja atau pensil dapat digunakan sebagai alat penunjuk.
h.    Pulpen pemberi tanda atau pensil berminyak dapat digunakan untuk menggaris bawahi hal – hal yang penting dalam transparansi saat materi tertenru dibahas.
i.    Penggaris juga dapat digunakan sebagai alat petuntuk, penggaris dapat diletakkan dikaca proyektor diatas transparansi untuk menunjukkan bagian penting dalam transparansi.
j.   Proyektor yang difokuskan dengan tepat lebih dahulu sebelum pertemuan tidak akan membutuhkan pemfokusan kembali selama diskusi berlangsung. Pembicaraan sebaiknya mengecek dari waktu ke waktu  untuk memeriksa bahwa gambar terlihat dengan jelas dan transparansi terletak ditengah proyektor.
k.    Apabila waktunya memungkinkan, akan lebih baik jika mematikan lampu selama pergantian transparansi. 

Dalam penggunaan OHP guru dapat menggunakan teknik – teknik sebagai berikut :
1)    Guru dapat menulis langsung diatas lembaran transparansi yang kosong sewaktu menerangkan materi pelajaran. Guru dapat juga menggunakan transparansi yang diulang yang dapat digunakan untuk membuat gambar / tulisan selengkapnya ( teknik tertulis ).
2)      Dalam menerangkan materi yang disajikan guru dapat menunjukkan dengan menggunakan penuntuk seperti pensil / barang lainnya. Penunjuk akan dapat dilihat dengan jelas dilayar ( teknik tunjuk ).
3)     Guru dapat menutup  bagian yang belum diterangkan supaya murid – murid terpusat perhatiannya pada apa yang sedang dijelaskan ( teknik bertahap ).
4)     Proyektor dapat dimatikan lampunya kalau sekiranya guru menerangkan materi secara verbal, untuk kemudian dihidupkan kembalu bila diperlukan ( teknik menghidupkan / mematikan ).
5)     Guru dapat menerangkan materi pelajaran secara bertahap dengan jalan menutup bagian yang belum diterangkan. Teknik semacam ini disebut dengan teknik tindih ( berlapis ).

Berdasarkan penjelasan diatas maka dengan menggunakan OHP penampilan guru bisa lebih hidup, lebih menarik dan lebih efektif, sekaligus meningkatkan perhatian dan tanggapan para peserta didik 

4.      Kelebihan dan Kekurangan OHP
Disini ada beberapa kelebihan – kelebihan dalam penggunaan OHP ( Overhead Projector ), diantaranya :
a.     Pantulan proyeksi gambar dapat dilihat jelas pada ruangan yang terang ( tidak perlu pada ruangan yang gelap ) sehingga si pendidik dan para peserta didik dapat saling melihat.
b.     Dapat menjangkau kelompok yang besar.
c.     Si pendidik dapat bertatap muka dengan peserta didik, karena OHP (Overhead Projector) dapat diletakkan di depan kelas, dan dengan demikian si pendidik dapat mengendalikan kelasnya.
d.     Transparansi dapat dengan mudah dibuat sendiri oleh si pendidik, baik yang dibuat secara manual maupun yang melalui proses cetak, salin maupun kimia.
e.    Peralatannya mudah dioperasikan dan tidak memerlukan perawatan khusus.
f.     Memiliki kemampuan untuk menampilkan warna.
g.    Dapat disimpan dan digunakan berulang kali.
h.    Dapat dijadikan pedoman dan penuntun bagi para pendidik dalam penyajian materi. ]

Beberapa kekurangan – kekurangan dalam penggunaan OHP (Overhead Projector), diantaranya :
1) Media itu memerlukan perangkat keras ( hardware : OHP dan plastic transparann ) yang khusus untuk memproyeksikan pesan yang dikehendaki.
2) Memerlukan persiapan yang matang dan terencana, terutama bila menggunakan teknik – teknik penyajian yang kompleks.
3) Dalam penggunaannya diperlukan ketrampilan yang khusus.
4) Menuntut penataan ruang yang baik.
5) Menuntut perhatian untuk menghilangkan distorsi proyeksi.
6) Membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit.
7) Si pendidik berperan ganda dalam menyiapkan materi yang akan disajikan.
8) Menuntut cara kerja yang sistematik dan terarah.
9) Membutuhkan keterampilan untuk menulis pesan atau materi yang baik ( rapi ) pada transparan sehingga mudah dicerna oleh para peserta didik. 

2. Microform reader 
Microform reader ini adalah peralatan untuk membaca bahan-bahan yang di simpan (dicetak) pada film dalam bentuk (ukuran) micro . Ada dua bentuk film yang di gunakan,yaitu yang berbentuk gulungan (roll) disebut “micro film” (ukuran yang umum dipergunakan ialah film 16 mm dan 35 mm). Ada pula yagberbentuk lembaran disebut “microfiche”.

Berdasarkan bentuk  bahan yang akan dibaca tersebut, ada dua jenis peralatan untuk membaca, yaitu:
Microfilm reader
Microfiche reader

Peralatan ini bekerja berdasarkan prinsip kerja proyektor. Jadi yang akan dibaca, baik yang berbentuk microfilm maupun microfiche akan diproyeksikan ( oleh lampu proyektor dan lensa proyeksi ) kesebuah bidang ( bisa berbentuk cermin). Selanjutnya akan memantulkan gambar proyeksi kepermukaan layar dengan perbesaran beberapa puluh kali kepermukaan layar sehingga bisa dibaca. Oleh karena itu, peralatan ini juag disebut ‘microform projektor reader.

Macam-macam peralatan microfilm :
a.    Camera berfungsi untuk memotret atau mengambil gambar arsip pada suatu film.
b.    Prodessor berfungsi untuk memproses atau mencuci film-film yang sudah berisi arsip sebagai hasil kerjaan kamera.
c.    Duplicator berfungsi untuk mengadakan atau membuat kopi film.
d.    Reader berfungsi untuk membaca microfilm melalui layar monitor seperti layar televise.
e.    Reader printer, tidak saja dipakai sebagai alat baca tetapi juga untuk mencetek kembali microfilm yang dibaca ke dalam bentuk kertas dengan berbagai ukuran.

3. Proyektor Film Rangkai Film Strip Projector
Filmstrip  atau  film rangkai atau film gelang ialah media visual proyeksi diam, yang pada dasarnya hampir sama dengan media slide hanya saja filmstrip ini terdiri atas beberapa film yang merupakan satu kesatuan seperti halnya gelang, di mana ujung yang lainnya bersatu membentuk rangkaian. 

Jumlah frame atau gambar dari suatu filmstrip ada yang berjumlah 50 buah dan ada pula yang berjumlah 75 buah dengan panjang 100 sampai dengan 130 cm. Kelebihan filmstrip dibanding film slide adalah media filmstrip mudah penggandaannya karena tidak memerlukan bingkai, juga frame-frame filmstrip tidak akan tertukar karena merupakan satu kesatuan. Akan tetapi pengeditan dan perbaikan/ revisi filmstrip relatif agak sukar, karena harus dilakukan di laboratorium khusus.

Sebagai media pendidikan film strip mempunyai beberapa kelebihan yakni sebagai berikut:
1. Kecepatan penyaji film dapat strip dapat di atur, dapat di tambah narasi, dengan kontrol oleh seorang guru.
2. Film strip dapat menyatukan berbagai media yang berbeda dalam satu rangkai, seperti fhoto, bagan, dokuman, katrun dll.
3. Ukuran gambar sudah pasti karena  film strip merupakan satu kesatuan.
4. Penyimpanannya mudah, cukup di gulung dan di masukan ke tempat khusus.
5. Dapat untuk belajar kelompok maupun individu.

Sedangkan kelemahan dari film strip ini adalah sebagai berikut.
1. Sulit di revisi karena sudah merupakan satu rangkaian;
2. Sulit dibuat oleh perseorangan (guru);
3. Revisi film strip  atau perbaikan agak susah dilkukan karena harus dilakukan di sebuah laboratorium khusus.  

4. Proyektor Film Bingkai
Media slide atau film bingkai adalah media visual yang di proyeksikan melalui alat yang disebut proyektor slide. Slide atau film bingkai terbuat dari film positif yang diberi bingkai dari karton atau plastik film positif yang bisa di gunakan untuk film slide ukurannya 35 mm dengan ukuran 2 x 2 inci. Sebuah program slide biasanya terdiri atas beberapa bingkai, yang banyaknya tergantung pada bahan atau materi yang akan di ajarkan. 

Proyektor slide ini mempunyai empat unsur utama, yaitu:
1. Bola lampu yang berpijar atau sumber cahaya yang lain, yang biasanya  berpendingin kipas.
2. Reflektor dan lensa” berkondensasi” untuk  mengarahkan cahaya ke side.
3. Lensa –lensa untuk fokus, dan
4. Penahan slide.

Pada dasarnya slide sama dengan film-strip, perbedaannya adalah bahwa slide dapat diproyeksikan satu persatu, sedangkan film-strips merupakan rangkaian atau keseluruhan penyampaian ide tertentu. Lazimnya, slide dapat digunakan untuk menyajikan gambar atau objek hasil pemotretan.

Setidaknya, ada empat kelebihan dari media slide, yaitu:
1. Membantu menimbulkan pengertian dan ingatan yang kuat pada pesan yang di sampaikan;
2. Merangsang minat dan perhatian  siswa dengan warna dan gambar yang konkrit;
3. Program  slide  mudah direfisi sesuai dengan kebutuhan, karena filmnya terpisah–pisah; dan
4. Penyimpanannya mudah kerena ukurannya kecil.

Sedangkan kelemahan dari media slide  ini adalah sebagai berikut.
1. slide  ini memerlukan penggelapan ruangan untuk memproyeksikannya;
2. pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama jika program yang di buatnya cukup panjang, memerlukan biaya yang cukup besar, hanya dapat menyajikan gambar diam saja. 

PENUTUP

A.    KESIMPULAN 

Alat – alat proyeksi yang digunakan dalam media pembelajaran diantaranya terdiri dari Overhead Projector ( OHP ), Microform Reader, Film Bingkai Suara, proyeksi Film Bingkai yang masing- masingnya memiliki kelebihan dan kekurangan untuk digunakan dalam media pembelajaran.

Dengan adanya media pembelajaran ini akan sangat membantu guru dalam memvariasikan model pembelajarannya, karena dengan menggunakan media tersebut akan dapat menarik minat belajar siswa dan mengurangi kejenuhannya dalam belajar.

B.     SARAN

Demikianlah makalah yang kami buat, dan kami sadar karena keterbatasan pada diri kami, maka kami berharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan yang diberikan kepada kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Teknologi Pendidikan, Bandung: CV Jemars, 1982.

Sadiman, Arif dkk, Media Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1986.

Sudjana, Nana, Media Pengajaran, Bandung: CV Sinar Baru, 1991.

Usman, Basyiruddin, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Yusup, Pawit M., Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional,Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990.

Thursday, November 10, 2016

Oleh: Ahmad Zuber Yusuf, Nindy Agustin, Ratna Dewi Purnamasari, Rizky Nurfadilah Zean, Rosita Oktayani, Wismoyo Sandi Nugroho

Sumber Gambar: Link

Pendahuluan
Media pembelajaran merupakan salah faktor penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Hal tersebut disebabkan adanya perkembangan teknologi dalam bidang  pendidikan yang menuntut efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang optimal, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi bahkan jika perlu menghilangkan dominasi sistem penyampaian pelajaran yang bersifat verbalistik dengan cara menggunakan media pembelajaran.

Sehubungan dengan penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran, para tenaga pengajar atau guru perlu cermat dalam pemilihan dan atau penetapan media yang akan digunakannya. Kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan media akan menunjang efektivitas kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Disamping itu juga kegiatan pembelajaran menjadi menarik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, dan perhatian siswa menjadi terpusat kepada topik yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Kecermatan dan ketepatan dalam memilih media pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor seperti luas sempitnya pengetahuan dan pemahaman tenaga pengajar tentag kriteria dan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan serta prosedur pemilihan media pembelajaran. Uraian berikut akan membahas hal-hal dimaksud agar kita dalam memilihan media pembelajaran lebih  tepat.

Media Jadi dan Media Rancangan
Dilihat dari pengadaannya media dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1.    Media jadi,
2.    Media rancangan

Media jadi ( Media by utilization ) yaitu, media yang sudah ada di sekolah dan yang tersedia di pasaran , dalam hal ini media yang dirancang khusus oleh perusahaan tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan biasanya dibuat secara masal. Disebut juga media siap pakai.

Media rancangan ( media by design ) yaitu, media yang dirancang sendiri khusus oleh guru sesuai dengan tujuan kebutuhan pembelajaran tertentu dan biasanya tidak ada di pasaran.

Kelebihan dari mendia jadi
  1. Hemat waktu : Guru tidak usah repot-repot mencari media pembelajara karena mungkin sekolah sekolah  sudah mempunyai dan tinggal menggunakan   .
  2. Hemat biaya  : Jika dibandingkan dengan membuat sendiri harga media jadi jauh lebih murah.
  3. Hemat tenaga : Guru tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan memeras otak untuk merancang media pembelajaran karena memang sudah tersedia.
  4. Dijual bebas
Kekurangan dari media jadi
  1. Belum tentu sesuai dengan tujuan atau kebutuhan dalam proses pembelajaran.
  2. Budaya konsumtif : menggantungkan membeli produk yang dibuat orang lain.
  3. Kurang kreatif : Tidak mau berinisiatif untuk mempuat produk media pembelajaran sendiri     dikarnakan terbiasa menggunakan produk orang lain.
Kelebihan media rancangan  :
  1. Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, karena dirancang khusus oleh guru atau dibuat sendiri oleh guru.
  2. Menumbukan kreatifitas : Mampu membuat karya dan mewujudkan ide-ide dalam menciptakan media pembeajaran.
  3. Kebanggaan institusi / personil : Karena dengan banyaknya media pembelajaran yang dirancang sendiri oleh guru di sekolah tersebut akan dapat membawa nama harum sekolah. Misalnya karya guru tersebut diikutkan dalam lomba membuat alat pembelajaran.
Banyaknya media pembelajaran sekarang ini , guru dituntut untuk lebih selektif dalam memilih media untuk dapat memenuhui kebutuhan pembelajaran sehingga tujuan yang diharapkan dapat benar-benar tercapai .

Jadi dapat disimpulkan bahwa, “media jadi merupakan media siap pakai yang telah dipasarkan dan bersifat umum, sedangkan media rancangan adalah media yang dibuat khusus oleh pihak tertentu atau guru sesuai dengan kebutuhan dan bersifat pribadi.”

Dasar Pertimbangan Pemilihan Media
1.    Alasan Teoritis Pemilihan Media
Memang tepat adanya bahwa media identik dengan guru, karena media pembelajaran merupakan salah satu komponen utama dalam pembelajaran, selain tujuan, materi, metode dan evaluasi, maka sudah seharusnya dalam pembelajaran guru menggunakan media. Proses pemilihan media menjadi penting karena kedudukan media yang strategis untuk keberhasilan pembelajaran. Alasan pokok pemilihan media dalam pembelajaran karena didasari atas konsep pembelajaran sebagai sebuah sistem yang didalamnya terdapat suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan.

Jika dilihat dari prosedur pengembangan desain instruksional maka diawali dengan perumusan tujuan instruksional khusus sebagai pengembangan dari tujuan instruksional umum, kemudian dilanjutkan dengan menentukan materi pembelajaran yang menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran serta menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Upaya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran, ditunjang oleh media yang sesuai dengan materi, strategi yang digunakan, dan karakteristik siswa.

Analisis penyebab rendahnya hasil belajar dapat meninjau ketepatan seluruh komponen diantaranya : mungkin keberhasilan ini disebabkan karena rumusan tujuan tidak sesuai dengan row input dan tujuan awal siswa. Penyebab yang lain bisa dari materi kurang sesuai dengan tujuan. Apabila dua komponen telah dianalisis, tujuan dan materi sudah sesuai maka selanjutnya perlu dikaji penerapan strategi dan penggunaan media pembelajaran. Jika strategi dan media sudah tepat, maka perlu dikaji evaluasi yang digunakan apakah sudah tepat bentuknya, jenis, instrumen evaluasi dan prosedur evaluasinya.

Mekanisme tersebut jelas menunjukkan pendekatan sistem dalam pembelajaran dengan pengertian bahwa setiap komponen dalam pembelajaran saling berkaitan satu sama lain, saling berinteraksi, saling berhubungan, saling terobos, dan saling ketergantungan. Uraian diatas juga menggambarkan dengan jelas bagaimana kedudukan media dalam pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem pembelajaran. Penggunaan media akan meningkatkan kebermaknaan (meaningful learning) hasil belajar. Dengan demikian pemilihan media menjadi artinya dan ini menjadi alasan teoritis  mendasar dalam pemilihan media.

Pengkajian sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Gerlach dan Elly tersebut menempatkan komponen media sebagai bagian integral dalam keseluruhan sistem pembelajaran. Dengan demikian, secara teoritis model tersebut menjadi dasar alasan mengapa kita perlu melakukan pemilihan terhadap media, agar memiliki keseuaian dengan tujuan (spesification of objective), kesesuaian dengan isi (spesification of content), strategi pembelajaran (determination of strategy), dan waktu yang tersedia (allocation of time).

2.    Alasan Praktis Pemilihan Media
Alasan praktis berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan mengapa guru menggunakan media. Terdapat beberapa penyebab orang memilih media, dijelaskan oleh Arif Sadiman  sebagai berikut:

a.    Demonstration
Dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, kegunaan, cara mengoperasikan dan lain-lain. Media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran, misalnya seorang guru sedang menerangkan teknik mengoperasikan Overhead Projector (OHP). Pada saat menjelaskannya menggunakan alat peraga berupa OHP dengan cara mendemonstrasikan, guru tersebut menjelaskan, menunjukkan dan memperlihatkan cara-cara mengoperasikan OHP.

b.    Familiarity
Pengguna media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, sehingga terus menerus ia menggunakan media yang sama.

Misalnya seorang dosen yang sudah terbiasa menggunakan media Over Head Projector (OHP), kebiasaan menggunakan media tersebut didasarkan alasan karena sudah akrab dan menguasai detail dari media tersebut, meski sebaiknya guru menggunakan media yang variatif, karena dalam konsepnya tidak ada satu media yang sempurna.  Dalam arti kata tidak ada media yang cocok untuk semua tujuan pembelajaran, semua situasi dan semua karakteristik siswa.

c.    Clarity
Alasan ketiga mengapa guru menggunakan media adalah untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan yang lebih konkrit. Pada praktek pembelajaran, masih banyak guru tidak menggunakan media, metode yang digunakan dengan ceramah. Cara seperti ini memang tidak merepotkan guru untuk menyiapkan media, cukup dengan menguasai materi maka pembelajaran dapat berlangsung. Namun apakah pembelajaran seperti ini akan berhasil? Cara pembelajaran seperti ini cendenrung akan menyebabkan verbalistis atau pesan yang disampaikan guru tidak sama dengan persepsi siswa.

Misalnya guru IPA di Sekolah Dasar sedang menjelaskan ciri-ciri makhluk hidup, diantaranya makhluk hidup dapat bernapas dengan insang dan paru-paru. Jika guru tidak mengemas materi tersebut menjadi konkrit, maka siswa yang tidak pernah melihat insang dan paru-paru akan membayangkan bentu-bentuk lain yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Disinilah banyak pengguna media memiliki alasan bahwa menggunakan media adalah  untuk membuat informasi lebih jelas dan konkrit sesuai kenyataannya.

d.    Active Learning
Media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan guru. Salah satu aspek yang diupayakan guru adalah siswa dapat aktif dalam pembelajaran. Namun tidak selamanya mampu membuat siswa aktif hanya dengan cara ceramah atau tanya jawab, namun diperlukan media untuk menarik minat belajar siswa. Sebagai contoh seorang guru memanfaatkan teknologi computer berupa CD interaktif untuk mengajarkan materi fisika. Dengan CD interaktif, siswa  lebih aktif mempelajari materi dan menumbuhkan kemandirian belajar, guru hanya mengamati dan mereview penguasaan materi oleh siswa. Cara seperti ini membuat siswa lebih termotivasi, terlebih kemasan CD interaktif dengan multimedia menarik perhatian dan membuat pesan pembelajaran lebih lengkap dan jelas.

Keberadaan media dapat diperoleh dengan memanfaatkan yang sudah ada seperti yang sudah ada di alam atau diperoleh dengan cara pembelian. Arif Sadiman mengemukakan beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan rujukan untuk membeli media dengan beberapa pertanyaan berikut.
  • Pertanyaan pertama, apakah media yang dipilih itu relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai ? hal ini mempermasalahkan kesesuaian antara media dan tujuan.
  • Pertanyaan kedua, apakah disertai dengan buku manual atau sumber informasi tentang media tersebut? Mengingatkan bahwa media harus disertai dengan informasi petunjuk penggunaan media. Ini penting, karena pengguna tidak semuanya dapat langsung menggunakan media dengan benar.
  • Pertanyaan ketiga, apakah perlu dibentuk tim ahli dan pengguna tersebut untuk mereview media tersebut? Hal ini dilakukan jika sekolah akan mengadakan media dalam jumlah banyak sehingga membutuhkan biaya besar. Untuk menghindari ketidakcocokan media tersebut , maka sebaiknya sekolah membentuk yang terdiri dari ahli media (media specialist) dan guru sebagai pengguna yang juga menguasai materi pelajaran (content specialist).
  • Pertanyaan keempat, apakah terdapat media di pasaran yang telah divalidasi atau di uji coba? Sebaok-baik media adalah telah dilakukan validasi, sebab proses validasi dilakukan menggunakan prosedur ilmiah yang hasilnya tidak perlu diragukan lagi. Media yang dijual bebas di pasaran tidak semuanya hasil pengujian, akan lebih baik lagi kalau sudah dilakukan riset sebelumnya.
  • Pertanyaan kelima, apakah media tersebut boleh direview terlebih dahulu sebelum membeli ? hal ini kaitannya dengan pertanyaan ketiga ketika pihak sekolah akan membentuk tim, proses pembentukan tim ini dilakukan jika media yang akan dibeli diperbolehkan untuk direview.
  • Pertanyaan keenam, apakah terdapat format review yang sudah dibakukan? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena salah satu syarat uji validitas adalah menggunakan instrument yang juga sudah valid.
Kriteria Pemilihan Media
Media pembelajaran yang  beraneka ragam jenisnya  tentunya  tidak akan digunakan seluruhnya secara serentak dalam kegiatan pembelajaran, namun hanya beberapa saja. Untuk itu perlu di lakukan pemilihan media tersebut. Agar pemilihan media pembelajaran tersebut tepat, maka perlu dipertimbangkan faktor/kriteria-kriteria dan langkah-langkah pemilihan media. Kriteria yang perlu dipertimbangkan guru atau tenaga pendidik dalam  memilih media pembelajaran menurut Nana Sudjana yakni 1) ketepatan media dengan tujuan pengajaran; 2) dukungan terhadap isi bahan pelajaran; 3) kemudahan memperoleh media; 4) keterrampilan guru dalam menggunakannya; 5) tersedia waktu untuk menggunakannya; dan 6) sesuai dengan taraf berfikir anak. 

Sepadan dengan hal itu I Nyoman Sudana Degeng menyatakan bahwa ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan guru/pendidik dalam memilih media pembelajaran, yaitu: 1) tujuan instruksional; 2) keefektifan; 3) siswa; 4) ketersediaan; 5) biaya pengadaan; 6) kualitas teknis. 

Selanjutnya menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti  kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu: 1) tujuan; 2) karakteristik siswa; 3) alokasi waktu; 4) ketersediaan; 5) efektivitas; 6) kompatibilitas; dan 7) biaya.

Berkaitan dengan pemilihan media ini, Azhar Arsyad menyatakan bahwa kriteria memilih media yaitu: 1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai; 2) tepat untuk mendukung isi pelajaran; 3) praktis, luwes, dan tahan; 4) guru terampil menggunakannya; 5) pengelompokan sasaran; dan 6) mutu teknis. 

Selanjutnya Brown, Lewis, dan Harcleroad menyatakan bahwa dalam memilih media perlu mempertimbangkan kriteria sebagai berikut: 1) content; 2) purposes; 3) appropriatness; 4) cost; 5) technical quality; 6) circumstances of uses; 7) learner verification, and 8) validation. 

Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa pada prinsipnya pendapat-pendapat tersebut memiliki kesamaan dan saling melengkapi. Selanjutnya menurut pandangan penulis yang perlu dipertimbangkan dalam kriteria pemilihan media yaitu tujuan pembelajaran, keefektifan, peserta didik, ketersediaan, kualitas teknis, biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya serta alokasi waktu yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hal ini akan  diuraikan sebagai berikut:
  1. Tujuan pembelajaran. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya, mungkin ada  sejumlah alternatif yang dianggap cocok untuk tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok. Kecocokan banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan yang akan dicapai dengan karakteristik media yang akan digunakan.
  2. Keefektifan. Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih, mana yang  dianggap paling efektif untuk mencapai  tujuan yang telah ditetapkan. 
  3. Peserta didik. Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ketika kita memilih media pembelajaran berkait dengan peserta didik, seperti: apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan karakteristik peserta didik, baik itu kemampuan/taraf berpikirnya, pengalamannya, menarik tidaknya media pembelajaran bagi peserta didik? Digunakan untuk peserta didik  kelas dan jenjang  pendidikan yang mana? Apakah untuk belajar secara individual, kelompok kecil, atau kelompok besar/kelas? Berapa jumlah  peserta didiknya? Di mana lokasinya? Bagaimana gaya belajarnya? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh? Pertanyaan-pertanyaan tersebut  perlu dipertimbangkan ketika memilih dan menggunakan media dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Ketersediaan. Apakah  media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalu belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat sendiri, membuat bersama-sama dengan peserta didik, meminjam menyewa, membeli dan mungkin bantuan.
  5. Kualitas teknis. Apakah media media yang dipilih itu kualitas baik? Apakah memenuhi syarat sebagai media pendidikan? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?
  6. Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
  7. Fleksibilitas (lentur), dan kenyamanan media. Dalam memilih media harus dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat digunakan dalam berbagai situasi dan pada saat digunakan tidak berbahaya.
  8. Kemampuan orang yang menggunakannya. Betapapun tingginya nilai kegunaan media, tidak akan memberi manfaat yang banyak bagi orang yang tidak mampu menggunakannya.
  9. Alokasi waktu, waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran akan berpengaruh terhadap penggunaan media pembelajaran. Untuk itu ketika memilih media pembelajaran kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti; apakah dengan waktu yang tersedia cukup untuk pengadaan media, apakah waktu yang tersedia juga cukup untuk penggunaannya.
Prosedur Pemilihan Media
Ada beberapa prosedur atau langkah yang dapat ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran. Pendapat Gagne dan Briggs yang dikutip oleh Mohammad Ali menyarankan langkah-langkah dalam memilih media pengajaran yaitu: 1) merumuskan tujuan pembelajaran, 2) mengklasifikasi tujuan berdasarkan domein atau tipe belajar, 3) memilih peristiwa-peristiwa pengajaran yang akan berlangsung, 4) Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa, 5) mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam pengajaran, 6) Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media yang dipakai. 7) Menentukan media yang terpilih akan digunakan, 8) menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut, 9) Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap peristiwa, dan 10) Menuliskan script pembicaraan dalam penggunaan.media.

Selaras dengan hal tersebut, Anderson menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu:

1.    Penerangan atau Pembelajaran
Langkah pertama menentukan apakah penggunaan media untuk keperluan informasi atau pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya dalam menerima informasi, sedangkankan media untuk keperluan pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukkan kemampuannya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

2.    Tentukan Transmisi Pesan
Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah dalam proses pembelajaran akan digunakan ‘alat bantu pengajaran’ atau ‘media pembelajaran’. Alat bantu pengajaran alat yang didesain, dikembangkan, dan diproduksi untuk memperjelas tenaga pendidik dalam mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara produk pengembang media dan peserta didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai materi pembelajaran digantikan oleh media.

3.    Tentukan Karakteristik Pelajaran
Asumsi kita bahwa kita telah menyusun disain pembelajaran, dimana kita telah melakukan analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan pembelajaran, telah memilih materi dan metode. Selanjutnya perlu dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu termasuk dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah tujuan tersebut memerlukan media yang berbeda.

4.    Klasifikasi Media
Media dapat diklasifikasikan sesuai dengan ciri khusus masing-masing media. Berdasarkan  persepsi dria manusia normal  media dapat diklasifikasikan menjadi media audio, media video, dan audio visual.   Berdasarkan ciri dan bentuk fisiknya media dapat dikelompokkan menjadi media proyeksi (diam dan gerak) dan media non proyeksi (dua dimensi dan tiga dimensi). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan keberadaannya, media dikelompokkan menjadi dua yaitu media yang berada di dalam ruang kelas dan media-media yang berada di luar ruang kelas.  Masing-masing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bila dibandingkan dengan media lainnya.

5.    Analisis karakteristik masing-masing media
Media pembelajaran yang banyak macamnya perlu dianalisis kelebihan dan kekurangannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.  Pertimbangan  pula dari aspek ekonomi dan ketersediaannya. Dari berbagai alternatif kemudian dipilih media yang paling tepat.

Kesimpulan
Media pembelajaran adalah sarana komunikasi untuk menampaikan materi pembelajaran. Terdapat beberapa penyebab orang memilih media, antara lain dijelaskan oleh Arif Sadiman (1996:84) sebagai berikut: Demonstrasi, familiar, klaritas, belajar aktif. Beberapa media yang paling akrab dan hampir semua sekolah memanfaatkan adalah media cetak (buku). selain itu banyak juga sekolah yang telah memanfaatkan jenis media lain gambar, model, dan Overhead Projector (OHP) dan obyek-obyek nyata. Sedangkan media lain seperti kaset audio, video, VCD, slide (film bingkai), program pembelajaran komputer masih jarang digunakan meskipun sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar guru. Ada beberapa kriteria umum dalam pemilihan media antara lain :
a. Kesesuaian dengan tujuan ( instructional goals) 
b. Kesesuaian dengan materi pembelajaran ( instructional content) 
c. Kesesuaian dengan karakteristik pembelajar atau siswa 
d. Kesesuaian dengan teori 
e. Kesesuaian dengan gaya belajar siswa 
f. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan Adapaun prinsip pemilihan media adalah :
  • Sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran
  • Guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran
  • Harus berorientasi pada siswa yang belajar
  • harus mempertimbangkan biaya pengadaan.

Daftar Pustaka

Ronald H, Anderson,Selecting and Developing Media for Intruction, (Westcounsin: ASTD).

Sadiman, S, Arief, dkk,, Media Pendidikan (Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatannya), (Jakarta: CV.Rajawali, 1990).

Arsyad, Azar, Media Pengajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997)

Wibawa, Basuki, dan Mukti, Farida, Media Pengajaran, (Jakarta: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikti Dip Dikbud, 1992/1993).

James, W, Brown, Robert, B Lewis, And Fred, F, Harcleroad, Instructional Technology, Media, And Method, (Newyork: Mc. Graw-Hill Book Company, 1983).

I, Nyoman, Sedana, Degeng, Media Pendidikan, (Malang:FIP IKIP Malang,1993)

Robert, Cs, Heinich, Instructional Media, (New York: John Wiley & Sons, 1982).

Ali, Muhammad, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1984)

Sudjana, Nana, Dan Rivai Ahmad, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru, 1991)